Wednesday, 17 April 2013

Netralitas Ultras Gresik


Netralitas dan Independensi Ultrasmania



Jika Mabes bersikap untuk mempropagandakan virus perdamaian antar suporter, lain halnya sikap arus bawah kebanyakan. Ada yang pro aliansi Viking-Bonek, disisi lain ada yang yang pro aliansi Aremania-LA-The Jak-Pasoepati. Implikasinya, rasisme sesama Ultras Gresik pun tidak bisa dielakkan. Yang pro-Bonek mengejek yang pro-Arema, begitu juga sebaliknya. Pun yang pro-Viking menghujat yang pro-The Jak, dan juga sebaliknya. Masih sangat sering saya menemukan status-status yang berisikan rasisme antar dua kelompok suporter paling berpengaruh di Jawa Timur (Bonek dan Aremania) tersebut dimana nama Ultras Gresik disertakan di dalamnya. Seakan-akan eksistensi kelompok suporter lain lebih penting daripada eksistensi Ultras Gresik sendiri. 
Bukankah Ultras Gresik adalah kelompok suporter tersendiri yang memiliki independensi dan visi-misi sendiri ? Bukan suporter boneka yang dengan mudah membebek kepentingan kelompok suporter lain. Bukankah seharusnya kita sesama Ultras Gresik bersatu dan mengedepankan kepentingan dan tujuan kita sendiri, yakni menyerukan perdamaian antar suporter dan menjadikan Ultras Gresik lebih dikenal di kancah per-suporter-an Indonesia ? Kenapa justru kemudian kita terombang-ambingkan kepentingan kelompok suporter lain. Daripada kita ikutan mereka ribut, lebih baik kita bergandengan-tangan dan bersama-sama membesarkan apa yang kita miliki (Ultras Gresik) dengan menyebarkan virus perdamaian yang menjadi salah satu ciri khas kita. Kita tidak akan pernah besar dan disegani suporter lain jika ternyata rasa bangga kita terhadap Ultras Gresik dan Gresik United sendiri masih dibawah rasa bangga kita terhadap kebesaran Arema dan Persebaya, atau Persija dan Persib.
Ultras yo Ultras. Kita punya Gresik United, kebanggaane arek Gresik.
Salam seduluran Ultras Pager..
by : Ach. Faiz M.N. Abdalla

Friday, 5 April 2013

Logo Persegres, Petrokimia Putra, dan Gresik United



tim yang tampil di liga perserikatan mewakili Kabupaten Gresik


tim yang tampil di kompetisi Galatama (Liga Semi Pro) dengan home base di Gresik. Pada era penyatuan liga (1992) nama Petrokimia Putra lebih melambung daripada Persegres Gresik. Petrokimia berhasil mencapai final 2 kali, yaitu tahun 1992 dan tahun 2002. menjadi kampiun pada tahun 2002. mendekati tahun 2005 PT. Petrokimia Gresik tak lagi sanggup mendanai eksistensi klub.


tahun 2005, untuk menjaga eksistensi Kabupaten Gresik dalam kancah persepakbolaan nasional, maka dilakukan langkah penyelamatan terhadap Petrokimia Putra, yaitu dengan meleburkannya dengan klub Persegres Gresik, sehingga tercipta nama klub yang baru, yaitu Gresik United.


langkah yang tidak rasional dilakukan pengurus dengan mengubah nama dan logo Gresik United menjadi Persegres Jaka Samudra pada tahun 2011. seperti ingin melupakan kejayaan Petrokimia Putra menurut saya.  karena Persegres adalah klub era perserikatan dari kabupaten Gresik. 

GALATAMA 1994/1995 Juara


1994/1995 Juara

Skuad:
Penjaga Gawang: Gatot Prasetyo, Aris Rinaldi, Anwar Sanusi, Samai Setiadi
Belakang: Nandang Kurnaedi, Dede Iskandar, Robby Darwis, Roy Darwis, Hendra Komara, Yadi Mulyadi, Dadang Hidayat
Tengah: Nana Supriatna, Yayan Sundana, Nunung Mulyadi, Dudi Subandi, Yaya Sunarya, Asep Sumantri, Yudi Guntara, Yusuf Bachtiar, Mulyana, Asep Kustiana
Depan: Sutiono Lamso, Asep Dayat, Asep Poni, Kekey Zakaria, Dadang Kurnia, dan Tatang Suryana.
Putaran I
27 Nov 1994 Pelita Jaya vs Persib 1-0 
30 Nov 1994 Persijatim vs Persib 1-2 
11 Des 1994 Persib vs Warna Agung 3-0 
18 Des 1994 Semen Padang vs Persib 1-0 
21 Des 1994 PS Bengkulu vs Persib 0-2 
04 Jan 1995 Persib vs Mataram Putra 3-1 
08 Jan 1995 Persib vs Bandung Raya 1-1 
22 Jan 1995 Persib vs Persiku 1-0 
25 Jan 1995 Persib vs BPD Jateng 2-1 
29 Jan 1995 Persib vs Arseto 2-0 
12 Mar 1995 Persib vs PSDS 0-0 
16 Mar 1995 Persib vs Persiraja 4-0 
19 Mar 1995 Persita vs Persib 0-1 
29 Mar 1995 Persib vs PSMS 2-1 
01 Apr 1995 Persib vs Medan Jaya 0-0 
16 Apr 1995 Persija vs Persib 1-1
Putaran II
30 Apr 1995 Persiraja vs Persib 1-0 
03 May 1995 PSMS vs Persib 0-0 
07 May 1995 Medan Jaya vs Persib 2-2 
11 May 1995 PSDS vs Persib 1-1 
17 May 1995 Warna Agung vs Persib 0-4 
21 May 1995 Persib vs Persija 2-1 
25 May 1995 Persib vs Persita 2-0 
07 Jun 1995 Persiku vs Persib 0-2 
11 Jun 1995 Mataram Putra vs Persib 0-1 
14 Jun 1995 Arseto vs Persib 0-4 
17 Jun 1995 BPD Jateng vs Persib 0-2 
25 Jun 1995 Persib vs Bandung Raya 0-0 
02 Jul 1995 Persib vs Persijatim 2-0 
05 Jul 1995 Persib vs Semen Padang 4-1 
09 Jul 1995 Persib vs PS Bengkulu 3-0 
15 Jul 1995 Persib vs Pelita Jaya 1-1
Divisi Utama Wilayah Barat
1.Pelita Jaya 32 24 5 3 78-25 77
2.Persib Bandung 32 20 9 3 54-15 69
3.Bandung Raya 32 19 10 3 68-26 67
4.Medan Jaya 32 15 11 6 46-29 56
————————————————
5.Semen Padang 32 14 10 8 45-25 52
6.Persiraja 32 14 10 8 37-41 52
7.Arseto 32 14 6 12 46-38 48
8.Persita Tangerang 32 13 6 13 43-41 45
9.PSMS Medan 32 11 8 13 37-36 41
10.PSDS 32 10 11 11 38-45 41
11.Mataram Putra 32 11 6 15 24-31 39
12.Persiku 32 10 7 15 30-37 37
13.Persija Pusat 32 11 5 16 42-51 35 [-3]
14.BPD Jateng 32 8 10 14 42-50 34
15.Persijatim 32 6 6 20 29-71 24
16.PS Bengkulu 32 5 5 22 28-69 20 Degradasi
17.Warna Agung 32 2 5 25 24-81 11 Degradasi
NB: Persija dikurangi 3 point.
Topscorer: Peri Sandria (Bandung Raya) 33 goals.
Babak 8 Besar
Grup A
19 Jul
Pelita Jaya 1-1 Pupuk Kaltim
Bandung Raya 1-1 Barito Putra
22 Jul
Pelita Jaya 0-2 Bandung Raya
Pupuk Kaltim 0-0 Barito Putra
25 Jul
Bandung Raya 1-2 Pupuk Kaltim
Pelita Jaya 1-2 Barito Putra
Klasemen:
1.Pupuk Kaltim 3 1 2 0 3- 2 5
2.Barito Putra 3 1 2 0 3- 2 5
3.Bandung Raya 3 1 1 1 4- 3 4
4.Pelita Jaya 3 0 1 2 2- 5 1
Grup B
20 Jul
Persib 0-0 Petrokimia Putra
Assyabaab SGS 2-1 Medan Jaya
23 Jul
Persib 2-1 Medan Jaya
Assyabaab SGS 2-2 Petrokimia Putra
26 Jul
Persib 3-0 Assyabaab SGS
Petrokimia Putra 3-0 Medan Jaya
Klasemen Akhir:
1.Persib Bandung 3 2 1 0 5- 1 7
2.Petrokimia Putra 3 1 2 0 5- 2 5
3.Assyabaab SGS 3 1 1 1 4- 6 4
4.Medan Jaya 3 0 0 3 2- 7 0
Semifinal
28 Jul
Pupuk Kaltim 0-1 Petrokimia Putra
Persib 1-0 Barito Putra
Final
30 Jul
Petrokimia Putra 0-1 Persib
[Sutiono 76]
Wasit : Zulkifli Chaniago
Petrokimia :D arryl Sinerine, Lutfi, Sasi Kirono, Setio Budiarto (Y)(51′)(R)(53′), Khusaeri, Eri Irianto (Y)(6′), Andi Setiono/Arifin (77′), Zainul Arifin, Widodo C. Putra, Suwandi HS, Jaksen F. Tiago (Y)(44′)
Persib : Anwar Sanusi, Dede Iskandar, Nandang Kurnaedi, Mulyana (Y)(62′), Robby Darwis, Yadi Mulyadi, Kekey Zakaria, Yudi Guntara/Asep Sumantri (51′), Sutiono, Yusuf Bachtiar, Asep Kustiana (Y)(29′)
Pelatih Persib: Indra Tohir
Pelatih Petrokimia: Andi Teguh
Topscorer: Peri Sandria (Bandung Raya) 34 goals (37 matches).
Best Player: Widodo Cahyono Putra (Petrokimia Putra)

Wednesday, 3 April 2013

THEY CALL ME ULTRAS 1999 - CURVA NORD GRESIK

THEY CALL ME ULTRAS 1999 - CURVA NORD GRESIK

Slogan "They Call Me Ultras" merupakan karya asli buah pemikiran dari kawan-kawan Unity. Slogan tersebut muncul untuk program go internasional dari Ultras Gresik. Kemunculan slogan ini pertama kali pada tanggal 18 Februari 2012 ketika Gresik United melawan Persidafon Dafonsoro. Slogan keren tersebut dapat dijumpai pada kaos raglan Unity dan giant flag Unity yang berkibar dengan anggun mulai istirahat pertandingan.


Menjadi bagian dari tribun utara tidak pernah begitu mudah sebenarnya, tidak dengan benar-benar bebas, pun tidak benar-benar nyaman. Menjadi bagian dari tribun utara justru memberikan beban lebih di pundak kita 
semua. Berdiri dan bernyanyi 2 x 45 menit sudah kita rasakan sejak barisan kita menjadi begitu rapat dan padat pada tahun-tahun lalu. Tak berhenti di urusan tribun yang memaksa kita untuk terus berdiri dan bernyanyi, otak kita tak boleh mati jika kita menjadi bagian dari tribun utara. Bendera-bendera tidak boleh berhenti berkibar, bahkan saat kita pulang dari kesibukan sehari-hari yang mengekang, kita berpikir tentang bendera apa lagi yang akan kita buat untuk pertandingan akhir pekan besok agar Menjadi semakin banyak dan semakin banyak lagi bendera kita di tribun utara, mengibarkan semangat untuk Gresik united. 

Cukup cinta kita dalam hati untuk Gresik united yang kita jaga. Tapi ingatlah juga, stadion bukan tempat remeh yang bisa kita hadiri tanpa persiapan matang. Pertandingan adalah hal sakral yang memberi kewajiban pada kita untuk menghormatinya sebagai sesuatu yang kita banggakan. Kenakanlah sepatu, baju terbaikmu, karena stadion, pertandingan, dan Gresik united adalah penting bagi jiwa dan hidupmu, merekalah cinta yang tak pernah pudar. Kalau kamu dihadapkan pada pilihan makan atau membeli tiket, hendaknya kamu memilih pilihan yang kedua. Melihat kemenangan Gresik united yang diperjuangkan oleh punggawa-punggawanya di lapangan hijau sana akan mengenyangkanmu, tidak usah ragu. Dan jangan pernah ragu. 

Tidak ada satu atau lebih nama yang kedudukannya lebih tinggi di tribun utara. Semua sama, tribun adalah tempat egaliter bagi kita. Yang tua menggandeng yang muda, yang muda menghormati yang tua. Yang berhenti bernyanyi tidak boleh marah jika diajak bernyanyi, yang duduk tidak boleh tersinggung jika diajak berdiri. Laki-laki dan perempuan tidak menjadi pembeda. Karena kita semua setara di tribun utara. Jangan habiskan nafasmu untuk menggoda perempuan dan memberikan siulan pada mereka, semua sama, dan bibir kalian hanya untuk menyanyikan lagu-lagu tentang kemenangan. Tangan hanya untuk kau rentangkan, hanya untuk bertepuk tangan dan hanya untuk mengibarkan bendera. Hal-hal sampah yang membuat perempuan tak nyaman adalah dosamu bagi Gresik united karena para pahlawan sedang berusaha mencari kemenangan sementara kamu justru mengalihkan perhatian pada hal lainnya.

Mereka mencibir bahwa kita adalah penyebab keonaran, menjadi biang dari setiap pertarungan yang melibatkan kita. Jika ada keributan yang melibatkan kita semua, pastikanlah bahwa itu tidak dimulai dari kita. Kalau kita marah, pastikanlah karena musuh melempari pemain kita. Kalau kita mengamuk, pastikanlah karena musuh menghalangi kita mendukung Gresik united. Menjadi bagian dari tribun utara tidak pernah menghalalkan pertarungan tanpa alasan. Kita boleh berteman dengan siapapun. Selama mereka tidak menggangu satu nama Gresik united, mereka boleh kita anggap teman sebaya. Tetapi ingat satu hal lagi, musuh dari temanmu bukanlah musuhmu sendiri. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka tanpa kita ikut campur di dalamnya. Kita mencari teman, bukan mencari musuh. Kita tidak pernah bertarung tanpa alasan. 

Karena satu perbuatan dari seorang diantara kita akan mencerminkan bagaimana tribun utara berperilaku, menjadi kesadaran kita bersama untuk tetap menjaga nama baik tribun utara. Dengan begitu kita menjaga nama baik Gresik united yang sampai mati ada di dalam dada kita. berdoalah dalam hati: semoga GRESIK UNITED JUARA.

- sebuah dukungan untuk kota kecil dan sepak bola, Gresik - jatim -
4 Februari pukul 20:38
MENGINGATKAN LAGI UNTUK YANG KE SERIBU KALINNYA

*Kehormatan, totalitas, loyalitas dan persahabatan. Ultras adalah tentang nilai-nilai idealisme yang diterapkan sepanjang masa. Ultras bukan tentang yang terbaik atau yang teratas , melainkan tentang mentalitas. Mentalitas yang hanya ada pada Ultras. Mentalitas yang yang lebih kuat dari segala tekanan. Pelarangan masuk stadion dan jeruji penjara, tak ada yang dapat menghentikan kami. Kami Ultras, tindaslah kami, maka bara tekad kami akan semakin besar. Kami memercayai mentalitas Ultras. Sepakbola telah sakit, benar-benar sakit. Semuanya hanya tentang uang, uang dan uang. Sepakbola normal telah diabaikan, stadion tak pernah terisi penuh.


 29 Maret pukul 20:12






http://www.facebook.com/pages/TCMU-THEY-CALL-ME-Ultras-est-1999/410639582308005

Wednesday, 27 March 2013

SBY Si Pesolek Jenderal Brutus


Rekam jejak hitam Sang Jenderal.
SEMUA tokoh tentu memiliki catatan hitam dalam perjalanan karier mereka menuju puncak. Mulai dari tokoh dunia semacam Napoleon Bonarpate, Adolf Hittler, John F Kennedy, sampai tokoh nasional seperti Soekarno, Soeharto, Wiranto, Prabowo, tak luput juga “bapak” kita yang satu ini: Susilo Bambang Yudhoyono.
Ini adalah cerita yang disadur dari arsip salah satu catatan teman, yang dia dapat dari sumber-sumber orang lingkaran kekuasaan yang tahu rekam jejak sang Jenderal dalam merintis karir. Yang jelas, tak selamanya jujur. Itulah dunia politik.
Menurut penilaian orang-orang yang kenal dan tak begitu simpati pada jenderal ini, SBY diidentikkan dengan Marcus Brutus. Brutus adalah kawan, anak buah, dan orang yang sangat dipercaya Julius Caesar, kaisar Romawi. Tapi Brutus pulalah yang menusuk sang kaisar dengan pisau dari belakang hingga mati.
Karakter Brutus akhirnya dipakai untuk menggambarkan seorang yang berkhianat terhadap orang yang menolongnya, melindunginya, bahkan mempercayainya. Karakter ini hampir selalu muncul dalam pergulatan politik.
SBY bahkan mengambil peran sebagai Brutus untuk tiga presiden; Habibie, Abdurrahman Wahid dan Megawati. Bedanya, Brutus zaman Romawi akhirnya mati bunuh diri, sedangkan SBY ini terbilang Brutus yang masih langgeng dan beruntung. Tak tahu lagi bagaimana nasibnya ketika huru-hara Demokrat berjumpa dengan ending.
Era Reformasi
DI akhir zaman Soeharto, SBY adalah Kasospol ABRI di bawah Panglima ABRI Wiranto. Tanggal 16 Mei 1998 Mabes ABRI di Jalan Merdeka Barat, Jakarta, dipenuhi wartawan karena ada siaran pers soal Wiranto yang meminta Soeharto mundur. Tapi Wiranto tak muncul-muncul.
Ketika banyak orang sedang menunggu-nunggu Wiranto, Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) ABRI, Wahab Mokodongan, tiba-tiba membagikan siaran pers yang isinya menimbulkan kontroversi: ABRI Mendukung Pernyataan PBNU. Padahal pernyataan salah satu organisasi massa terbesar di Tanah Air itu adalah minta Soeharto turun.
Mendapati ada siaran pers itu, Wiranto kaget. Kemudian baru diketahui bahwa SBY-lah yang mengkonsep siaran tersebut. Usut punya usut, ternyata dengan cara itu, SBY bermaksud mendorong dan menjebak Wiranto agar mengambil alih kekuasaan. Akibat dari manuver tersebut, Wiranto sempat kena tuding mau mengkudeta Soeharto.
Seperti ditulis di bukunya, SBY bahkan sempat bertanya pada Wiranto, “Apakah Bapak akan ambil kekuasaan?” Ambisi Jenderal satu ini memang besar.
Ketika itu target jabatan SBY adalah Pangab. Kalau Wiranto bisa jadi Presiden dengan mengambilalih kekuasaan dari Soeharto, tentu dia yang akan ditunjuk jadi Pangab, orang nomor satu di ABRI. Tapi, manuver Wiranto yang ditunggu-tunggu tak juga dilakukan. SBY bahkan menuding seniornya itu penakut.
Tapi, setelah Soeharto jatuh dengan sendirinya, akibat mahasiswa menggelar aksi turun ke jalan, SBY memanfaatkan momentum itu dan dieksploitasinya sebagai bentuk keberpihakannya pada kelompok reformis. Ke mana-mana ia mengatakan kalau dia adalah ABRI reformis dan ABRI perlu paradigma baru. Dengan tampil sebagai sosok seolah-olah berpihak pada perubahan, SBY tampil dalam elite politik pada pemerintahan pasca Soeharto.
Pada masa pemerintahan Habibie (1998-1999), SBY menjabat Kepala Staf Teritorial (Kaster) ABRI. Jabatan ini sama sekali tak memuaskannya karena tak memberinya peluang untuk leluasa bermanuver politik. Ia sangat gerah pada pemerintahan Habibie, karena pada dasarnya dia sama sekali tak percaya pada pemerintahan sipil. Berhubung ABRI masih ada di bawah Pangab Wiranto, SBY tetap harus loyal pada atasannya itu. Apapun kata Wiranto, ia patuhi.
Dalam situasi yang sama, dia juga memanfaatkan Wiranto. Dalam kasus Jajak Pendapat Agustus 1999 di Timor Timur, contohnya, SBY mendukung Wiranto yang setuju agar dilakukan jajak pendapat. Ia juga yang meyakinkan Wiranto agar Jajak Pendapat itu dilaksanakan. Sementara Presiden Habibie setuju-setuju saja dengan rencana ini, karena dia memang sedang mendambakan Nobel Perdamaian yang bisa membuatnya terpilih lagi dalam Sidang Umum MPR, Oktober 1999.
Tapi hasilnya malah jauh dari harapan: Timor Timur lepas. Ribuan nyawa tentara yang berkorban dalam aneksasi Timor Timur tahun 1975 lalu terbuang sia-sia. Tapi di saat yang sama, SBY malah dipuji Amerika karena sudah ”menjalankan misi dengan baik”. Sudah lama AS dan negara sekutunya, Australia, ingin Timor Timur pisah dari Indonesia. SBY dan Wiranto juga berhasil mendorong Habibie yang ultra-liberal agar Jajak Pendapat menghasilkan kemerdekaan Timor Timur.
Ketika Sidang Umum MPR Oktober 1999, Wiranto sempat maju jadi capres kendati ketika itu belum melepas jabatannya sebagai Pangab. SBY-lah yang mendorong Wiranto untuk maju.
Bahkan, ketika dia menyatakan mencabut pencalonannya sebagai capres, orang yang paling menonjol berdiri di belakang Wiranto adalah SBY. Gambar Wiranto-SBY kala itu bisa dilihat dalam iklan-iklan Wiranto di awal-awal masa reformasi dulu. Di situ, SBY kelihatan seperti ajudan Wiranto dengan pandangan lurus ke depan tak berkedip.
Sidang Umum MPR akhirnya dimenangkan Abdurahman Wahid yang didukung Poros Tengah. Aliansi Poros Tengah berhasil menjegal Megawati yang partainya, PDIP, menang Pemilu Juni 1999.
Menikam Gus Dur
KETIKA berkuasa, Presiden Abdurrahman Wahid mengangkat SBY jadi Menteri Pertambangan dan Energi (Mentamben) pada 26 Oktober 1999. Ini adalah deal dengan ABRI. Waktu itu dia masih jenderal aktif.
SBY berhasil mendapat simpati dan kepercayaan dari Gus Dur. Ia bahkan mendapat pekerjaan dan tugas di luar kewenangannya sebagai Mentamben. Gus Dur memperlakukannya seperti anak emas. Bahkan Gus Dur menunjuknya sebagai negosiator dengan pihak Keluarga Cendana agar mau mengembalikan kekayaan Soeharto yang diduga hasil korupsi saat menjadi Presiden.
Bolak-balik SBY datang ke rumah Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut) untuk menyampaikan keinginan Gus Dur. Tapi, yah, rupanya tak ada upaya serius kecuali ngobrol-ngobrol ringan saja dengan beberapa anggota Keluarga Cendana.
Ketika menjabat sebagai Mentamben pun tak ada prestasi apa-apa. Ia cuma rajin melakukan kunjungan-kunjungan dan pidato-pidato normatif. Untunglah, ada Dirut Pertamina yang cukup andal ketika itu: Martiono. Jadi cacat tugas-tugas pertambangan dan energi ada yang menutupi.
Ketika Gus Dur merombak kabinetnya 26 Agustus 2000, SBY tetap dipercaya dan mendapat promosi sebagai Menteri Koordinator Politik, Sosial dan Keamanan (Menko Polsoskam). Kepercayaan ini diberikan karena SBY pernah bersumpah akan mendukung Presiden Gus Dur hingga selesai. Tapi pada kenyataannya harapan Gus Dur itu bertepuk sebelah tangan.
Pemerintahan Gus Dur terus digoyang DPR karena kasus Buloggate dan Bruneigate. DPR bahkan sudah mengeluarkan Memorandum I dan Memorandum II, sebelum diputuskan adanya Sidang Istimewa (SI). Memorandum II keluar tanggal 30 April 2001 dan berakhir satu bulan. Bayang-bayang Sidang Istimewa mengancam pemerintahan Gus Dur. Ia benar-benar di ujung tanduk.
Sebagai langkah antisipatif, Gus Dur berunding dengan SBY untuk mengantisipasi agar pemerintahannya tak jatuh. Reputasi Gus Dur ketika itu sudah sangat jelek di masyarakat dan DPR. Di tengah keterpepetannya, Gus Dur meminta SBY mendukung langkah-langkahnya menghadapi DPR. Ketika itu SBY menyatakan dukungan sepenuhnya dan ingin membuktikan bahwa sumpah setianya tak cuma ada di kata-kata.
Karena itulah, awal Mei 2001 dibentuklah Tim Tujuh (7) yang diketuai SBY. Tim ini mendapat mandat Gus Dur agar merumuskan dan mengambil segala langkah politik yang perlu untuk mengatasi ketegangan antara Presiden dan DPR secara konstruktif dan komperehensif. Gus Dur juga minta SBY membuat konsep pelimpahan tugas dan wewenang Presiden kepada orang yang ditugaskan. Demikian tinggi kepercayaan Presiden Gus Dur pada SBY saat itu.
Hasil dari Tim Tujuh yang diketuai SBY adalah perlunya Maklumat Presiden, yang intinya melimpahkan wewenang pada pejabat yang ditunjuk. Atas saran SBY, pada 28 Mei 2001, Gus Dur membuat Maklumat Presiden yang memberi perintah agar diambilnya langkah dan tindakan khusus untuk menciptakan ketertiban, keamanan dan hukum secepat-cepatnya.
Maklumat diserahkan SBY. Gus Dur berharap SBY benar-benar bisa mengatasi keadaan sehingga situasi menjadi tenang.
Namun, apa yang terjadi? SBY malah sama sekali tak berbuat apa-apa. Ia tak melobi DPR, Wapres Megawati atau tokoh-tokoh politik kunci yang beroposisi terhadap Gus Dur. Sebaliknya, dia malah menaikkan posisi tawarnya dalam pentas politik nasional. Ia menempatkan diri seolah-olah pihak yang bijak, yang tak mau menggunakan kekuasaan sewenang-wenang.
Brutus
Keinginan-keinginan Gus Dur ditepisnya. Inilah pengkhianatan paling telanjang dalam politik Indonesia mutakhir: Gus Dur ditikam dari belakang. Lagi-lagi peristiwa ini mengingatkan kita pada Marcus Brutus yang menikam Julius Caesar.
Gus Dur sungguh kecewa. Harapannya pada SBY tak kesampaian.
Di saat cucu Hasyim Asy’ari itu di ujung tanduk, SBY malah mengabaikan perintahnya. Sumpah setianya seolah tak pernah ada. Malah, tak disangka, orang yang begitu dipercayanya justru menikamnya dari belakang.
SBY yang menganjurkan Maklumat, SBY juga yang mementahkannya.
Gus Dur tak tahu kalau SBY bukan semata-mata mengambil langkah itu karena rasional politik, tapi juga karena kawan-kawannya di pemerintahan Bush (AS) sudah pesan agar Gus Dur diganti. Pengamat politik Amerika, Jeffrey Winters, saat itu mengatakan Washington sudah memutuskan bahwa Gus Dur harus pergi.
Indikatornya Amerika sudah tak suka lagi pada Gusdur adalah; IMF tidak mengucurkan bantuan dana USD 400 juta. SBY juga beberapa kali melakukan kontak dengan Wakil Menteri Pertahanan AS, Paul Wolfowitz.
Dua hari sesudah Maklumat Presiden dikeluarkan, 30 Mei 2001, DPR sepakat menggelar sidang istimewa untuk Gus Dur. Karena sakit hati dikhianati, pada 31 Mei 2001 Gus Dur mengganti SBY dengan Agum Gumelar.
Berbeda dengan SBY, Agum jauh lebih loyal. Meski tak setuju dengan berbagai langkah Gus Dur, Agum tetap menunjukkan sikap ksatria sebagai orang yang bertahan dengan kawannya. Sementara SBY seringkali memperlihatkan sikap “colong playu”
Menelikung  Megawati
Ditendang oleh Gus Dur, Ambisi SBY malah berkobar. Meski baru menusuk Gus Dur dari belakang, ia berani tampil maju sebagai kandidat Wakil Presiden pada Sidang Istimewa MPR-RI, 25 Juli 2001, bersaing dengan Hamzah Haz dan Akbar Tanjung. Semua tahu, pada akhirnya Hamzah Haz lah yang jadi juara.
Presiden Megawati yang menggantikan Gus Dur bermurah hati menampung SBY yang keleleran, tanpa jabatan dan pekerjaan. SBY melalui orang-orang dekatnya memang melobi Mega agar memakainya menjadi menteri.
Mulanya Mega ragu, karena rekam jejak tingkah laku SBY yang tak pernah setia dan cenderung berkarakter seperti Brutus. Tapi dengan tampang melasnya, SBY meminta-minta dan berjanji akan bekerja sebaik-baiknya. Naluri keibuan Mega tak tega menolaknya.
Tanggal 10 Agustus 2001, SBY diangkat menjadi Menko Polkam Kabinet Gotong Royong. Dari sinilah ia habis-habisan membangun citra sebagai orang yang mengendalikan Megawati. Karena Megawati hemat bicara, SBY menempatkan diri semacam juru bicara pemerintah.
Apa prestasi SBY dalam Kabinet Mega? Lagi-lagi tak ada yang istimewa. Tugas-tugas penanganan konflik Ambon dan Poso justru lebih banyak dilakukan Menko Kesra Yusuf Kalla.
Di Jakarta, kalangan politisi menyindir SBY salah tempat. Harusnya dia yang jadi Menko Kesra atau Menteri Sosial. Menurut penilaian para politisi ketika itu, SBY sangat takut menangani konflik Ambon yang penuh darah. Ia ngeri untuk datang ke Ambon dan minta Kalla mewakilinya. Lahirnya Malino I dan Malino II jelas bukan prakarsa SBY.
Para wartawan bahkan tahu bagaimana SBY hanya ingin tampil ketika penandatangan perjanjian damai Malino I dan II dilakukan. SBY di ruang rias hampir satu jam untuk menata wajah dan rambutnya agar kelihatan keren ketika dipotret atau disorot kamera. Para hadirin dipaksa lama menunggu SBY merias diri sebelum penandatanganan itu.
Dalam konflik Aceh, SBY adalah orang yang mengumumkan status darurat militer di Provinsi itu pada 19 Mei 2003. Tapi dia hanya satu-dua kali berkunjung ke Aceh melihat pelaksanaannya.
Sebagai Menko Polkam, SBY piawai menggunakan kesempatan dan fasilitasnya untuk menggalang dukungan. Kantor Menko Polkam dijadikan alat untuk membina basis massa dan kendaraan politik yang akan dipakainya. Ia membentuk tim angket Kementrian Polkam serta tim monitoring evaluasi dan pengamanan pemilu di 24 provinsi dan 24 kabupaten/kota. Langkah ini untuk mengukur sejauh mana aspirasi dan kehendak masyarakat dalam pemilu legislatif 5 April 2004 dan pilpres 5 Juli 2004.
Ia juga menggunakan iklan ajakan damai di televisi untuk memperbesar popularitas. Semua itu dibiayai Kementerian Polkam.
Inilah langkah sistematis SBY untuk menikam Mega dari belakang. SBY kembali membuktikan dirinya sebagai Brutus, kali ini terhadap Presiden Megawati.
September-Oktober 2003, foto-foto SBY beredar dalam bentuk poster, stiker dan spanduk Partai Demokrat. Tanggal 9 Februari 2004, di majalah Tempo, terang-terangan SBY menyatakan siap jadi presiden. Ia juga mengaku punya pertalian dengan Partai Demokrat.
Tanggal 10 Februari 2004, SBY membuat lagi pernyataan lanjutan kalau dia siap mundur dari kabinet jika resmi ditetapkan sebagai calon presiden. Langkah dan manuver SBY itu jelas mengganggu kinerja Kabinet Mega.
Para pentolan PDIP menilai SBY tengah melakukan plot politik. Harusnya SBY tidak plin plan. Jika mau maju jadi presiden, kenapa tak langsung mundur saja dari kabinet atau tetap menjalankan tugas Menko Polkam seperti amanat yang diberikan padanya?
Taufik Kemas, suami Presiden Megawati yang juga fungsionaris PDIP menjadi berang. Ia tak sabar dengan manuver SBY. Tanggal 2 Maret 2004, ia menyebut SBY seperti “anak kecil.”
“Masak, jenderal bintang empat kayak anak kecil begitu,” kata Taufik di Jakarta. Pernyataan TK (begitu panggilan akrab Taufik) adalah hasil provokasi yang dijalankan “tim sukses” SBY yaitu Sudi Silalahi, sekretaris Menko Polkam.
Sebelumnya, 1 Maret 2004, Sudi bicara di depan wartawan bahwa SBY dikucilkan Presiden Megawati. SBY, kata Sudi, tak dilibatkan dalam berbagai rapat penting Kabinet Mega. Kontan saja, suhu politik agak meningkat. Provokasi Sudi berhasil memancing amarah orang-orang PDIP.
Drama politik SBY menjadi perhatian publik. Ia menciptakan kesan sebagai orang yang teraniaya, tertindas dan terkucil oleh kekuasaan Presiden Mega. Fenomena ini sungguh ironis.
Kenyataannya, justru Megawati adalah orang yang ditikam dari belakang oleh SBY. Megawati yang melindungi, mempercayai, dan memberi kewenangan yang besar pada SBY, justru dikorbankan untuk mendongkrak popularitas SBY dan Partai Demokrat. Jangankan terima kasih, langkah Brutus SBY ini bahkan dijadikan bahan kampanye Partai Demokrat di berbagai daerah.
Ternyata apa yang dilakukan SBY sebagai Menko Polkam bukan untuk kemaslahatan rakyat atau kebaikan bangsa, melainkan hanya semata-mata batu loncatan bagi ambisi pribadinya jadi Presiden. Pola Brutus SBY memang bukan baru. Seperti diceritakan sebelumnya, SBY telah berbakat jadi Brutus (pengkhianat/penusuk dari belakang/penggunting dalam lipatan/penyalib di tikungan) sejak zaman Soeharto.
Langkahnya yang culas dan licik sebagai Brutus lebih mantap di zaman Habibie dan Gus Dur serta puncaknya pada 11 Maret 2004 ketika ia mundur dari Kabinet Megawati. Megawati yang membutuhkan bantuan Menko Polkam dalam penanganan politik nasional dan keamanan Pemilu ditinggalkan begitu saja, tanpa pertanggungjawaban.
Gemar Rapat di Tengah Konflik
Tahun 2001, di masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, stabilitas politik dan keamanan betul-betul goyah. Di Jakarta, atau kota besar lainnya, ancaman perampokan, pembunuhan, atau pencurian, merajalela. Lampu merah (lampu lalu lintas) adalah daerah bahaya satu, karena di situ beroperasi kelompok “Kapak Merah”.
Ketika lampu merah menyala, tiba-tiba saja serombongan anak muda bersenjata kapak, pisau, atau golok -terkadang bersenjata api-menyatroni mobil yang sedang berhenti, memecahkan kacanya, lalu merampok penumpangnya, dan pergi seenaknya saja meninggalkan korban, yang tak jarang sudah dianiaya dulu.
Polisi seakan tak berdaya. Situasi itu menyebabkan rakyat terpancing main hakim sendiri. Maling motor yang tertangkap dibakar hidup-hidup. Adegan mengerikan itu adalah pemandangan sehari-hari, di mana-mana.
Itu belum seberapa. Berbagai daerah juga bergolak. Aceh, misalnya, seakan sudah terpisah dari Republik. Bayangkan, Presiden Abdurrahman Wahid datang ke Banda Aceh, ketika itu, hanya berani sampai Masjid Raya. Bicara sebentar, langsung balik ke bandar udara, terbang pulang ke Jakarta.
Di Ambon, Maluku, “perang” Islam-Kristen mencapai puncaknya. Tak terhitung nyawa yang melayang, bangunan yang terbakar, atau perkantoran yang dimusnahkan. Peristiwa serupa terjadi di Poso, Sulawesi Tengah. Di berbagai daerah di Kalimantan, orang Dayak “perang” melawan suku pendatang, Madura. Korban tak lagi terhitung.
Ketika itu yang jadi Menko Polkam adalah Jenderal (Purn.) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang berambisi jadi Presiden RI. Sebagai penanggungjawab stabilitas politik dan keamanan di kabinet, apa yang SBY lakukan? “Ooh dia rapat terus, diskusi terus, sampai berbulan-bulan,” kata seorang Menteri yang ketika itu masuk jajaran Polkam.
Dan hasil rapat-rapat melelahkan yang dipimpin SBY itu, dibentuklah Desk Aceh, Desk Ambon, Desk Poso, Desk Sampit, dan entah Desk apa lagi. Apa kerja Desk itu? Jangan tanya, karena mereka rapat terus, diskusi terus, seminar terus. “Saya lihat orang-orang yang bunuh-bunuhan di Ambon, Poso, atau Sampit, sudah mulai capek. Mereka juga sudah capek membakar rumah, saking banyaknya rumah yang dibakar. Tapi rapat belum menghasilkan keputusan apa pun,” kata Menteri tadi.
Suatu hari rapat berlangsung lagi dipimpin SBY. Seperti biasa, diskusi berlangsung seru antara peserta rapat dan SBY moderatornya, persis seperti diskusi atau seminar yang biasa dilakukan di hotel-hotel.
Tiba-tiba, SBY memerintahkan Mayjen Aqlani Maja, Staf Ahli Menhankam, yang bertugas mewakili Menhankam Mahfud MD, untuk memberikan pendapat. Konon, Aqlani langsung bicara, “Pak Menteri, saya kira sudah lebih 3 bulan kita rapat terus. Semua kita diskusikan. Orang yang bunuh-bunuhan di Poso, Ambon, atau Kalimantan, tampaknya sudah capek, mereka sudah berhenti sendiri.Tapi rapat belum mengambil keputusan apa pun. Kalau Pak Menteri minta pendapat saya, apa saja yang Pak Menteri putuskan saya setuju. Yang penting, kita harus punya keputusan. Saya kira itu yang penting.”
Wajah SBY langsung merah-padam. Mungkin malu sekaligus marah karena merasa dihina. “Ini bukan rapat kedai kopi, yang hadir di sini para Menteri,” teriak SBY. Semua terdiam. Tapi beberapa Menteri, di antaranya, Menteri Otonomi, Prof. Ryaas Rasyid, secara sembunyi-sembunyi menunjukkan jempol jari tangannya kepada Aqlani, sebagai tanda mendukung. Rapat pun bubar, sekali lagi: tanpa keputusan apa pun.
Menurut sebuah sumber, Aqlani berani bicara seperti itu, selain karena kesal mengikuti rapat yang melelahkan tanpa keputusan itu, ia memang sudah lama kenal watak SBY. Ia dan SBY sama-sama ikut pendidikan militer di Port Leavenworth, Amerika. Di sana pula mereka mengikuti pendidikan S2, dan sama pula lulusnya. Sebelumnya, mereka pernah pula jadi dosen di Seskoad, Bandung, ketika Komandan Seskoad dijabat Feisal Tanjung. Jadi ia tahu betul kalau SBY itu adalah tipe orang yang tak bisa membuat keputusan (indecisive), apalagi keputusan itu berisiko.
Karena cacat personalitinya itulah, semasa menjadi Menko Polkam nyaris tak satu pun keputusan penting -apalagi yang berisiko tinggi datang dari kantor Menko Polkam. Kantor Menko Polkam, di kalangan para Menteri, sering diejek sebagai kantor “Seminar”. Seperti diketahui, masalah Poso dan Ambonakhirnya ditangani Jusuf Kalla, yang ketika itu menjabat Menko Kesra yang kemudian muncul Perjanjian Malino I dan II.
Kalau saja SBY punya rasa malu, seharusnya ia mengundurkan diri dari kabinet saat Malino I dan II ditandatangani dan mendapat restu dari Presiden. Memang gara-gara Malino itu SBY marah besar kepada Jusuf Kalla, yang telah mengambil alih wewenang dan tanggung jawabnya, tapi untuk mundur dari kabinet, tentu saja orang seperti SBY tak akan mau.
Ada lagi kisah dramatis sekaligus memalukan. Sewaktu Aceh diputuskan menjadi daerah darurat militer, SBY menjadi pelaksana hariannya, dan pimpinan tertinggi adalah Presiden Megawati. Sejumlah pasukan yang dikirim dengan kapal sampai setengah bulan terkatung-katung di tengah laut, karena SBY tak juga memutuskan sikap pemerintah untuk pendaratan pasukan itu. Malah ada yang bilang, pasukan itu sempat tiga hari kelaparan karena persediaan makanan sudah habis.
Akhirnya di tengah moral pasukan yang sudah hancur seperti itu, barulah mereka didaratkan. Itupun setelah Presiden Megawati turun tangan. SBY? Seperti biasa, tak bisa membuat keputusan berisiko seperti itu. Hobinya cuma berbusa-busa bicara di TV dan koran, dengan bahasa yang selalu normatif karena takut berisiko kalau ucapannya salah-tapi disusun sesuai kaedah berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Tanyakanlah pada kawan dan lawannya, tentang cacat SBY itu.
Jawabannya pasti tak jauh berbeda: SBY tak bisa mengambil keputusan. Mana mungkin seorang bisa jadi pemimpin apalagi menjadi Presiden, pengambil keputusan tertinggi yang sering penuh risiko dengan cacat personaliti yang sangat fatal seperti itu? Itu sebabnya, beberapa waktu lalu SBY dikenal sebagai si peragu yang kini kembali “dipercaya” rakyat, yang entah bodoh atau silau melihat penampilan sang jenderal yang selalu tampil klimis bicara normatif juga mementingkan popularitas itu. (*)

sumber : http://tofikpr.wordpress.com/2013/02/12/si-pesolek-jenderal-brutus/

Saturday, 23 March 2013

Sejarah Klub Gresik United


BERAWAL DARI ‘PETROKIMIA PUTRA GRESIK’

Petrokimia Putra Gresik didirikan pada Jumat 20 Mei 1988 oleh pihak manajemen PT Petrokimia Gresik. Sejak berdiri hingga sekarang, klub yang didanai pabrik pupuk PT Petrokimia Gresik tersebut telah lebih dari 15 tahun berkiprah di Divisi Utama Liga Indonesia.
Banyak klub besar di Indonesiayang pernah satu kelas dengan Petro Putra kini tinggal nama alias almarhum. Misalnya, Bandung Raya Bandung, Niac Mitra Surabaya, Warna Agung Jakarta, Assyabaab Surabaya, Perkesa, BPD Jateng, dan lain-lain.
Setidaknya ada beberapa hal penting yang bisa dicatat dalam perjalanan Petro Putra di dunia persepakbolaan nasional. Kiprah perdana klub ini mengikuti kompetisi pada era Galatama 1988-1989. Ketika itu, kompetisi sepakbola secara nasional ada dua kutub besar. Yakni, Galatama yang diikuti klub-klub semiprofesional dan perserikatan yang diikuti klub yang didanai dan dikelola pemda.
Ketika kali pertama masuk Galatama, sebenarnya di Gresik ada klub perserikatan yang bertengger di Divisi Utama Perserikatan, yakni Persegres. Bahkan, sebagian pemain Petro Putra angkatan pertama adalah alumni Persegres. Ketika itu, antusiasme warga Gresik lebih condong ke Persegres daripada ke Petro Putra. Beberapa pemain angkatan pertama Petro Putra yang alumni Persegres, antara lain Sasono Handito (kiper), Ferril Raymond Hattu, Rubianto, Reno Latupeirissa, Karyanto, Abdul Muis, Masrukan, Lutfi, Hasan Maghrobi, Derry Krisyanto, dan lain-lain. Mereka di bawah pelatih Bertje Matulapelwa dengan asisten pelatih Hendrik Montolalu dan Slamet Haryono. Hendrik merupakan mantan kiper Niac Mitra Surabaya.
Saat Liga Indonesia pertama digelar pada 1994/1995, Petrokimia Putra oleh banyak kalangan diberi gelar “juara tanpa mahkota”. Sebab, di partai final Liga Indonesia di Stadion Bung Karno Jakarta, Petro yang saat itu di bawah besutan pelatih Andi Muhammad Teguh dengan asisten pelatih Ferril Raymond Hattu dan Bambang Purwanto kalah dari Persib Bandung dengan skor 0-1. Padahal, dalam pertandingan tersebut, Petro memasukkan gol lebih dulu melalui kaki Jacksen F Tiago. Namun, dianulir wasit tanpa alasan jelas.
(Persib Bandung juara setelah mengalahkan Petrokimia Putra dengan skor 1-0)
Kiprah Petro Putra saat itu memang luar biasa. Petro ketika itu mendatangkan tiga pemain asing, yakni Derryl Sinnerine asal Trinidadand Tobaggo. Posisinya sebagai kiper. Lalu Carlos de Mello di posisi playmaker dan Jacksen F Tiago sebagai striker. Selain Jacksen dan Carlos, tim Petro melahirkan banyak bintang baru, seperti Widodo C Putra, Eri Irianto, dan Suwandi HS. Ketiganya kemudian jadi langganan masuk pelatnas PSSI.
(Carlos de Mello, Jacksen F Tiago, Widodo C Putra, Eri Irianto)
Melalui perjalanan panjang, Petro berhasil menjadi jawara Liga Indonesia 2002. Prestasi tersebut mendobrak hegemoni klub klub kotabesar di deretan utama persepakbolaan nasional. Biasanya jawara liga direbut tim-tim dari kota-kota besar dan secara tradisional memiliki kiprah dan prestasi sepakbola yang melegenda. Misalnya, Persebaya Surabaya, Persib Bandung, PSISSemarang, Persija Jakarta, maupun PSM Makassar.
Berbeda dengan Liga Indonesia1994/1995 yang menghasilkan kekecewaan mendalam bagi Petro, pada Liga Indonesia 2002 Petro dinaungi oleh dewi fortuna. Setelah di penyisihan menjadi kampiun Wilayah Timur, Skuad yang ditukangi Sergei Dubrovin ini sempat berada di ujung tanduk dalam babak delapan besar Grup K yang digelar di kandang sendiri. Menang 3-0 dari
Arema pada pertandingan pembuka, Petro ditaklukkan oleh Persipura 0-1. Dalam laga penentuan Petro kembali takluk dari Persita 0-1, sehingga mereka tinggal berharap Persipura dapat dikalahkan oleh Arema dengan skor tipis. Harapan mereka terkabul, gol Khusnul Yuli ke gawang Persipura membawa Petro ke semifinal.
(Sergei Dubrovin)
Pada babak Semifinal, Jawara Wilayah Barat dan Juara Grup K, Semen Padang sudah menunggu. Grafik Semen Padang yang tak terkalahkan di babak delapan besar berhasil dihentikan Petro melalui adu keberuntungan tendangan penalti, tiga pemain Semen Padang gagal menyarangkan bola. Di Final, tim yang juga tak terkalahkan sejak babak delapan besar, Persita Tangerang menghadang. Lagi-lagi keberuntungan berpihak pada Petro. Gol Ilham Jayakesuma di menit pertama berhasil dibalaslimabelas menit sebelum babak kedua usai. Puncaknya, pada menit ketigaperpanjangan waktu Yao Eloi berhasil memastikan gelar juara jatuh kepada Petro.
Sayangnya gelar juara Liga Indonesia 2002 tersebut menjadi titik balik dari perjalanan panjang Petrokimia Putra. Setahun kemudian, Petrokimia harus mengakhiri kompetisi dengan lesu setelah terdegradasi ke Divisi I. Petro mengikuti jejak PSIS yang juara untuk kemudian terdegradasi pada musim selanjutnya. Bedanya usaha Petro untuk bangkit menemui kegagalan.
Pada awalnya penampilan Petro sempat meyakinkan dengan menjadi juara setengah putaran kompetisi. Tapi Petro kemudian terpelanting ke peringkatlimadan gagal lolos ke babak 6 besar. Di akhir musim, ada angin segar dari perubahan jumlah peserta Liga yang membuat Petro mendapat promosi gratis. Sayangnya hal tersebut semu belaka, Petro menghuni dasar klasemen dan kembali terdegradasi ke Divisi I. Belakangan, isu pembubaran dan penggabungan Petro dengan Persegres justru lebih mengemuka dibanding upaya untuk kembali mengangkat Petro kembali ke Divisi Utama.

Pelatih, pemain dan pengirus Tim Petrokimia Gresik

Direktur Utama : Arifin Tasrif
Direktur SDM : Bambang Setyobroto
Direktur Keuangan : T. Nugroho Purwanto
Penasehat : Imam Supardi
Ketua Harian : Bambang Lesmoko
Manager : Sasono Handito
Asisten Manager : Ferryl Raymond Hattu

Prestasi yang diraih Tim Petrokimia Gresik

Liga Indonesia 1994/1995 : Runer Up Divisi Utama (Juara Wilayah Timur)
Liga Indonesia 1995/1996 : Peringkat 8 Wilayah Timur Divisi Utama
Liga Indonesia 1996/1997 : Peringkat 6 Wilayah Timur Divisi Utama
Liga Indonesia 1997/1998 : Peringkat 9 Wilayah Timur Divisi Utama (Liga dihentikan)
Liga Indonesia 1998/1999 : Sepuluh Besar Divisi Utama (Peringkat 2 Grup B)
Liga Indonesia 1999/2000 : Peringkat 10 Wilayah Timur Divisi Utama
Liga Indonesia 2001 : Peringkat 6 Wilayah Timur Divisi Utama
Liga Indonesia 2002 : Juara Divisi Utama (Juara Wilayah Timur)
Liga Indonesia 2003 : Peringkat 18 Divisi Utama (Degradasi)
Liga Indonesia 2004 : Peringkat 5 Wilayah Barat Divisi I
Liga Indonesia 2005 : Peringkat 14 Wilayah Timur Divisi Utama (Degradasi)Prestasi Lainnya:
1. Masuk 16 besar/putaran 3 Piala Winners Asia tahun 1995/1996
2. AFC Champion League tahun 2002/2003 sampai dengan putaran kedua.
ERA BARU PERSEGRES/GRESIK UNITED
Pada November 2005 lalu persepak bolaan gresik nyaris hilang dengan adanya ultimatum dari pihak Petro sebagai pengelola PS. Petrokimia Putra di karenakan alasan dana, dengan segala cara Ultras mengambil cara dan jalan agar sepak bola di kota Gresik tidak sampai hilang begitu saja. Demo penyampaian aspirasi ke Kantor DPR dan juga ke Kantor Utama Graha Petro Kimia. Dengan membuahkan hasil adanya Komitmen dari Pihak Pemkab Gresik dan juga PT. Petrokimia yang di jembatani melalui Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Gresik, maka lahirlah Gresik United sebagai ganti hilang nya Petro Putra dan Persegres yang pernah mengharumkan nama Kota Gresik sebagai jawara Ligina.
Klub yang dikenal dengan julukan “Laskar Giri” ini didirikan pada 2 Desember 2005, yang merupakan penggabungan dari bekas tim divisi utama Petrokimia Gresik, dengan tim divisi II Persegres Gresik.
(Gaston Castano, bintang yang dimiliki GU saat ini)
Seiring dengan penggabungan itu, pengelolaan tim ini pun berubah dari sebelumnya dipegang oleh perusahaan Petrokimia saat masih bernama Petrokimia Putra Gresik, menjadi tim “plat merah” dengan sokongan dana APBD Kota Kediri, mengikuti pengelolaanPersegres.
(James K Lomel, bintang GU di lini depan bersama Gaston Castano)
Klub yang dikenal dengan julukan “Laskar Giri” ini didirikan pada 2 Desember 2005, yang merupakan penggabungan dari bekas tim divisi utama Petrokimia Gresik, dengan tim divisi II Persegres Gresik. Seiring dengan penggabungan itu, pengelolaan tim ini pun berubah dari sebelumnya dipegang oleh perusahaan Petrokimia saat masih bernama Petrokimia Putra Gresik, menjadi tim “plat merah” dengan sokongan dana APBD Kota Kediri, mengikuti pengelolaan Persegres.
(Uston Nawawi [tengah] bintang gaek yang masih membela GU)
Sebagai tim baru, prestasi tim gabungan yang sepenuhnya menjadi milik Pemkot Gresik ini belum terlihat. Maklum, karena pendanaan yang dimiliki tim ini pun cukup terbatas, sehingga prestasi yang ditorehkan terkesan jalan ditempat.
Semakin parah karena dana APBD yang diperoleh untuk menopang kelangsungan tim tidak sesuai harapan, menyusul adanya larangan pemerintah pusat menggunakan dana rakyat ini untuk sepakbola secara terus menerus.
Basis Pendukung ULTRASMANIA GRESIK
Dengan 13 personel untuk mendukung sebuah tim besar pada masanya komunitas yang benama Ultras berangkat ke Solo guna mendukung tim kebanggaan Kota Gresik ,remaja asli Gresik “LUKI” seorang mahasiswa Malang pada waktu itu memberikan nama pada rombongan itu dengan nama ULTRAS yang bermakna Ulah Trampil dan Rasional, Ultras dibentuk untuk membuat jati diri sebuah supporter yang mampu memberikan dukungan positif dan rasional terhadap tim kebanggaannya.
Salam satu jiwa !
ULTRAS MANIA !
kita acungkan jari telunjuk..
kita acungkan jari kelingking..
dan teriakkan ULTRASMANIA
dan teriakkan ULTRASMANIA!
Pada tanggal 5 November 1999 ditetapkan sebagai hari lahir Ultras Gresik yang di ambil dari negara Italia yang bermakna Supporter militan ini diawali dengan pawai besar besaran di dalam kota dan memberikan dukungan pertama ke Jember pada laga Piala Gubenur I dan dan sempat memberikan nilai positif dalam berkreasi di senayan BungKarno Jakarta sehingga mengantarkan Gresik terharum namanya dengan menjadi Juara liga indonesia yakni PS. Petrokimia Putra.
(Stadion Tri Dharma, Gresik, kandang dari Gresik United)
Besarnya komunitas supporter menjadikan rasa kedewasaan yang menuntut pembenahan dlm kepengurusan maka diadakan nya Kongres I sehingga pada piala Gubenur yang ke Ultras di nobatkan sebagai supporter terbaik se jawa timur dan sempat menjadi supporter kreatif seindonesia fersi SIWO -PWI. Sampai terdegradasinya PS. Petrokimia Putra tidak membuat surut semangat Ultras untuk menghidupkan persepakbolaan di Kota Gresik tercinta ini.
–00–

GRESIK UNITED FOOTBALL CLUB 2005 / 2 DESEMBER 2005

3 DF Lan Bastian
7 MF David Faristian
10 MF Ngon Mamoun
11 MF Agus Indra Kurniawan
12 GK Tri Windu Anggono
... 14 FW Riski Novriansyah
15 MF Khabib Syukron
17 FW Aldo Barreto
18 MF Shohei Matsunaga
19 DF Wismoyo Widhistio
21 MF Amirul Syafa'at
22 FW Sultan Samma
23 DF Erol Iba
24 FW Mulham Arufin
26 FW Doni Lattu Faisal
27 DF Kacung Khairul Munip
29 DF Ambrizal
31 DF Diogo Santos Rangel (on loan from Sriwijaya)
55 DF Saša Zečević
77 GK Hery Prasetyo
83 MF Ahmad Sembiring Usman
86 GK Sandy Firmansyah
88 MF Siswanto
Lihat Selengkapnya



http://agusbudiawan.wordpress.com/2011/09/27/september/